Nginap… dari Hotel ke Rumah sakit… Uuhh

Mungkin pernah kita mendengar, setidaknya pernah saya baca di bukunya Safir Senduk tentang punya usaha sendiri tapi tidak kaya Percuma, diantaranya ditulis beda antara nginap di Hotel dibanding Rumah Sakit.  Kalau nginap di Hotel bisa kita perkirakan berapa lama akan menginap dan biaya yang akan dikeluarkan.  Sedangkan kalau nginap di rumah sakit kita tidak bisa memperkirakan atau menentukan sendiri berapa lama akan menginap dan biaya yang akan dikeluarkan.  Buku itu mengulas pentingnya memiliki investasi berupa asuransi seperti asuransi kesehatan, asuransi kendaraan, asuransi rumah, dan membahas hal lainnya yang perlu dipahami oleh orang yang punya usaha sendiri.   Sorry, saya gak mau mengulas hal itu, beli dan baca aja sendiri bukunya, kalau dibahas juga percuma, karena sampai sekarang saya belum selesai bacanya, makanya belum jadi orang kaya sampai sekarang… hik.

 

Tapi, pengalaman nginap dari hotel ke Rumah Sakit, yang baru-baru ini keluarga WJ alami mudah-mudahan jadi pelajaran yang bisa diambil hikmahnya untuk masa yang akan datang (kalau soal mengambil hikmah, manusia cendrung lupa ya, tapi semoga tidak). Ceritanya begini, 22-25 Mei yang lalu, saya  punya kegiatan di Hotel Mercure yang lokasinya di pinggiran Ancol bay city sana, kegiatannya mengundang Negara-negara di kawasan CT6 (6 negara the coral triangle) yaitu pertemuan koordinasi karena Negara-negara ini mau mengadakan kerjasama mengenai Coral Triangle Initiative (CTI) yang akan di launching pada 14 Mei 2009 di Manado.  Gak usah dibahaslah ya apa materi pertemuan tersebut, gak penting, he he.  Mengingat acaranya yang agak lama di Hotel itu, dan perlu kehadiran saya di acara itu, mempersiapkan sebelum acara, selama dan setelah acara berlangsung. Maka intinya saya harus nginap di Hotel, tidak ada tawaran lain karena lokasinya agak jauh di pinggir Jakarta, meskipun ada mobil pribadi pinjaman  untuk transport ke sana rasanya gak sanggup setiap hari bolak-balik Warung Jati- Ancol, kebayang capeknya, macet ditambah kenaikan BBM, belum resiko di jalan, membuat saya menyerah kalau disuruh bolak-balik.  Bukan soal menginap di Hotelnya yang jadi pemikiran, tapi soal jauh dari anak yang bikin pertimbangan, harus boyong keluarga ke Hotel, apalagi ayahnya gak ngasih izin nginap kalau gak bawa mereka.  Serba dilematis, begini lah tidak enaknya jadi ibu yang bekerja di kantor, pertimbangan antara kantor dan rumah selalu kadang mengganggu setiap langkahnya (salah ya? Memang, mestinya perempuan itu gak usah kerja, setuju!!  Di rumah aja, ngurus anak daripada di asuh pembantu,  tapi pertimbangan lain misalnya faktor ekonomi yang belum memungkinkan, faktor pendidikan yang memberikan kesempatan untuk bekerja,dlsb.  Alaaah,   intinya, memang karena belum jadi orang kayalah, sehingga daku yang seorang ibu, perempuan harus turun ke lapangan kerja).

So, akhirnya saya nanya ama receptionis hotel , berapa biaya  nginap di Hotel untuk tanggal sesuai kegiatan, ternyata, tidak ada kamar yang kuinginkan kosong untuk hari itu, yang ada ternyata harga beda untuk weekend, wadaw, gimana ya? Syukurnya, saya tahu bahwa banyak peserta yang udah disediakan kamar memilih tidak nginap, so, setelah nego dengan NGO yang mendanai pertemuan itu, ternyata ada kamar superior yang sedianya untuk delegasi yang bisa saya pakai untuk keluarga, Gratis! Syukur deh.  So, jumat pagi daku boyong keluarga nginap di Hotel.  Belum diceritain ya, sehari sebelumnya, saya udah disibuk bermacam persiapan kegiatan yang lumayan bikin stress, harus pulang malam, dimarahin boss karena persiapannya tidak sesuai dengan yang diinginkan boss.  Semua staff dapat jatah dimarahin waktu itu, daku yang punya tanggungjawab terhadap bahan materi gak nginap lagi, parah banget. Pagi-pagi sebelum iqa bangun, daku udah kabur ke lokasi acara di Ancol pake mobil pinjaman abangku yang lagi ke Pekanbaru, baru deh, ngerasain macetnya jalanan Jakarta, dari Warungjati ke Mampang yang kalau gak macet Cuma 5 menit bisa jadi setengah jam!  Trus, masuk tol Jakarta arah tanjung priok ancol, butuh waktu 30 menit, jadi butuh waktu 1 jam dijalan menuju lokasi, busyet deh, gak kebayang tiap hari harus begini. 

 

 

Hotel Mercure, Ancol

Nginap di Hotel memang gratis, apalagi fasillitas hotel Mercure ini  ada playground untuk bermain anak, namanya Mimo Kidz Club, lumayan si iqa agak terhibur, meski suhu tubuhnya agak tinggi, selalu minta ditemani bundanya, sehingga bunda agak kurang konsen dalam pekerjaan.  Cerita iqa sakit baca aja di blognya iqa yah. Selain itu ada kolam renang,  bisa jalan-jalan di pinggir pantai, berada di lokasi wisata Ancol, yah, memang hotel tersebut selalu ramai dengan pengunjungnya.  Benar-benar deh nginapnya kita kali ini FREE, eits, salah, makan kita bayar sendiri lagi, gak dibayarin sponsor.  Pernah dengan pe-de kita pesan makan di Hotel, pertimbangannya malas keluar karena kondisi iqa lagi sakit menunya ayam goreng dan nasi timbal 2 porsi, berapakah biaya yang dikeluarkan? Teng .. teng.. teng.. prediksi 100 ribu-an, ternyata, 179 ribu, busyet, cukup gede buat ukuran kantong tipis akhir bulan kalau Cuma buat makan.. kalau makan diluar udah puas kalie.. so, begitu hidangannya diantar ke kamar, ternyata memang enak.. yummy .. nyam.. nyam…  ternyata bukan hanya pesanan yang diantarkan, tapi udah berikut dengan sayuran, sop ada daging goreng, dll dengan penataan ala hotel, Ooohh… cukup puas, tapi gak boleh sering-sering, bisa bangkrut Bandar.

 

Pulang kerumah, di hari minggu yang cerah, kita gak lewat tol, karena jalanan Jakarta di hari Minggu sepi banget, gak ada macetnya,  BBM sudah naik, tapi kita belum ngisi bensin,  udahlah.  Kita harus ngisi di SPBU dekat rumah.  Karena sore harinya harus ke Bandara jemput mak dang.

 

Di bandara Soekarno-Hatta, kita sempat makan di KFC, iqa lahap banget makannya, gak kelihatan kalo lagi sakit sebelumnya, suhu tubuhnya juga seperti biasa udah normal lagi. so, gak mikir macam-macam.  Senin, kondisi iqa juga gak terlalu, memang sorenya aku lihat juga gak terlalu ceria.  Selasa pagi, iqa malas banget, maunya tidur terus.  Siangnya jam 11-an, pulang cepat dari kantor langsung bawa iqa ke RS Jakarta Medical Center (JMC) yang gak jauh dari rumah. Walhasil, dr Ully SPA yang menangani iqa mengatakan iqa gejala typus, dari ciri-cirinya udah positif, harus rawat inap 5 hari, wadaw… baiklah, apapun akan diberikan yang terbaik buat anak, ngapain juga sih aku capek-capek kerja ya kan..

 

Rumah Sakit Jakarta Medical Center

Rumkit ini gak jauh dari rumah Warung Jati, Rumkit swasta yang tidak terlalu ribet urusannya.  Yah, masuk rumkitgak jauh beda dengan kita masuk hotel, kalau nginap di Hotel kita nentukan akan nginap di kamar yang type berapa, standar, superior, deluxe, dll. Kemudian akan berapa hari kita nginap.  Bayar belakangan, mau cash atau pake credit card.  Harga kamar dan  fasilitas hotel lebih mahal daripada Harga kamar Rumkit, tetapi…. Biaya nginap di rumkit lebih mahal dibanding nginap di Hotel mewah. 

syukurnya ada asuransi yang diikuti yang diharapkan bisa mengcover semua biaya yang dikeluarkan di RS. 

 

Trus, kalau di RS, mending ada pasien lain kalau kasusnya merawat anak, biar ada pembanding. Misal, mesti di infuse, ada anak lain yang diperlakukan sama. Jadi bersemangat untuk dirawat, dll.

 

Yang jelas, dizaman segala susah seperti sekarang, jangan berharap deh nginap di Rumah sakit ataupun di Hotel.. Tetep aja.. Home sweet Home.

 

Btw, My Home @ depok kok belum ada kabarnya ya… Oh. my God.

 

 

 

  

 

 

  

One thought on “Nginap… dari Hotel ke Rumah sakit… Uuhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s